BSIS: Mulai Gaya Hidup Minim Sampah dari Rumah

BSIS: Mulai Gaya Hidup Minim Sampah dari Rumah

BSIS: Mulai Gaya Hidup Minim Sampah dari Rumah

Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) turut memberdayakan ibu rumah tangga dan anak muda untuk mengelola sampah bersama dengan mengumpulkan sampah anorganik.

Untuk menggenjot dorongan mengelola sampah di penduduk tersebut, BSIS berupaya mengimbuhkan harga ubah sampah yang stabil.

Staf Hubungan Masyarakat Bank Sampah Induk Surabaya, Nurul Chasanah menyampaikan perihal itu saat webinar bertajung Journey to the Waste: From Zero to Hero yang digelar oleh ITS, seperti ditulis Kamis, (9/9/2020).

Nurul menuturkan, untuk membentuk prilaku pengelolaan sampah di dalam penduduk diperlukan tahapan awal yakni mengimbuhkan edukasi pilah sampah. Kemudian penduduk diharapkan dapat memilah sampah secara independent berasal dari rumah masing-masing.

“Jika dapat menularkannya kepada sekitar, penduduk dapat menginisiasi bank sampah unit atau disetor langsung ke bank sampah induk,” kata dia.

Selain itu, BSIS terhitung memberdayakan penduduk rumahan seperti ibu rumah tangga dan anak muda untuk mengumpulkan sampah anorganik.

“Seperti halnya menabung, sampah yang disetor terhadap kami dapat ditukarkan bersama dengan duwit tunai dan kami yang bertanggung jawab atas proses daur ulang,” kata dia.

Dengan capaian pengolahan 361,57 ton sampah anorganik sepanjang 2019, BSIS sering tunjukkan konsistensi di dalam sepuluh program unggulannya. Salah satu yang jadi andalan penduduk adalah penukaran 53 style sampah anorganik.

“Mulai berasal dari sampah botol kaca sampai minyak jelantah sisa, kami pastikan untuk didaur ulang lewat kerjasama bersama dengan pihak terpercaya,” tutur Nurul.

Untuk menggalakkan dorongan pengelolaan sampah di masyarakat, bank sampah terbaik nasional 2017 ini berupaya mengimbuhkan harga ubah sampah yang relatif stabil.

“Kami terhitung hadirkan kemudahan bersama dengan program jemput sampah yang ditambah bersama dengan catatan administrasi penyetoran yang lengkap bagi nasabah,” ujar Nurul.

Pakai Langkah 6R

Sementara itu, Pendiri Zero Waste Indonesia, Maurilla Sophianti Imron menuturkan, kebanyakan mengolah sampah tiap tiap orang di Indonesia menggapai 0,7 kilogram tiap tiap hari.

“Artinya, total mengolah harian sampah penduduk menggapai 175.000 ton dan cuma tujuh % yang mengalami pengelolaaan lanjut,” ujar dia.

Oleh karena itu, ia mengajak penduduk mengawali tipe hidup baru minim sampah bersama dengan langkah 6R. Yaitu, Rethink atau pikirkan ulang sebelum akan belanja barang, Refuse atau menampik pemakaian plastik, Reuse atau menggunakan kembali, Reduce mengurangi pemakaian plastik, Repair atau melakukan perbaikan barang yang rusak, dan Recycle atau mendaur ulang.

“Salah satu program yang kami kampanyekan adalah #TukarBaju yang menekankan terhadap faktor reuse bersama dengan saling mengambil alih busana dibandingkan belanja busana baru,” ujar ibu satu anak tersebut.

Tak lupa, ia menegaskan, zero waste adalah bagaimana seseorang dapat bijak di dalam mengonsumsi dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. Dimulai berasal dari memastikan diri sendiri, selanjutnya menyebarkannya ke sekitar.

“Karena terhadap hakikatnya kami adalah agen perubahan, maka berasal dari itu start here and start now,” ujar dia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *